Trunyan Bali

Desa trunyan adalah salah satu tempat wisata di Bali yang sangat jarang dikunjungi karena tidak banyak orang mengetahui keunikan desa ini. Di desa ini, kita bisa melihat mayat terbaring di tanah namun tidak menimbulkan bau. Kenapa tidak menimbulkan bau? Hal ini dikarenakan terdapat pohon yang besar yang bisa menghisap bau dari mayat yang ada, nama pohon itu adalah terunyan, itulah sebabnya desa ini disebut desa trunyan.

Banyak orang yang enggan mengunjungi desa ini, selain tidak mengetahui tempat ini, akses ke Desa Trunyan juga merupakan salah satu faktor. Butuh sekitar dua jam dari Denpasar ke Danau Batur melalui jalan darat dan kemudian kita harus terus menyeberangi danau dengan perahu. Untuk dapat melihat prosesi pemakaman atau posisi mayat yang diletakkan dan juga area makam di desa trunyan, 360indonesia mengambil konten 360 ° video yang dapat dilihat melalui internet.

Trunyan village is one of the tourist attractions in Bali that is veryrare to be visited because not many people acknowledge the uniqueness of this village. In this village, we can see the corpse being lay on the ground and not inside the ground yet do not cause any odor. Why didn’t it have any odor? There is this very big tree that can absorb odor caused by the corpses. The name of the tree is Terunyan, which is why the village is called Trunyan village.
Many people are reluctant to visit this village, aside from not knowing about this place, the access to Trunyan village is also one of the factors. It took about two hours from Denpasar to Lake Batur by road and then we have to continue crossing the lake by boat. To be able to see the procession of the funeral or the position of the corpse being laid and also the area of the tomb in Trunyan Village, 360indonesia took a 360-degree video content that can be seen through the internet.